Setelah imunisasi dan control adek tsaqib sabtu lalu, dokter sey menyarankan kalau adek lebih cepat disunat lebih baik, setelah ngobrol sama abinya, alangkah baiknya kalau mas syauqi juga sekalian, mulailah umi ngobrol
Note: kami terbiasa menyebut “penis” sebagai “penis” tidak pernah diganti “anu” atau “itu” kami selalu mengajarkan bahwa itu adalah bagian tubuh sama dengan yang lain namun merupakan aurat sehingga harus ditutup.
Umi: mas, kata omdokter adek mau disunat mas syauqi juga yah?
Mas: diapain disunat?
Umi: penisnya dibersihkan
Mas: kenapa harus dibersihkan?
Umi: supaya tidak gampang kotor, tidak banyak kuman
(sebelumnya kami pernah membahas ISK, dan penyebabnya)
mas: kenapa harus?
Umi: karena Rasulllah mengajarkan seperti itu, khan supaya selalu bersih
Mas: Dibersihkannya diapapin (udah mulai curiga pandangnnya)
Umi: nanti om dokter yang bersihkan (sambil mikir penjelasan yang gampang)
Mas: (langsung nyamber) ga mau!
Umi: kalau gitu adek dulu yah
Mas: adek juga ga boleh
Umi: (senyum) ya udah nunggu mas syauqi tambah gedhe deh
Mas: udah tambah gedhe juga ga mau!
Umi: ya sudah kalau sekarang ga mau, nanti kalau mas sudah lebih gedhe kita ngobrol lagi yah (sambil senyum saya beranjak, semula kami duduk lesehan, mau mandi)
Mas: diem ajah kayanya mikir
Kami memang membiasakan menghormati keinginan anak-anak, apakah tentang makanan (tidak mau makan, sudah kenyang) kami ingin anak-anak belajar tentang keputusannya sejak usia dini, tapi tetap ada batesnya lo, nanti semakin besar batasnya makin longgar kok, anak-anak juga khan individu yang mandiri.
Sunday, May 2, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment